Video ‘Making of Inflasi Gaya Hidup’

•September 14, 2009 • 4 Comments

*18 September 2009 pukul 19.34 judul diganti oleh penulis karena membuat video terlihat seperti video enggak jelas*

Buat minimagz EQ besok saya kebagian rubrik lifestyle, dan berhubung malas kalau harus kebanyakan reportase sana-sini saya memilih untuk membuat artikel berjudul ” Inflasi Gaya Hidup “. Artikelnya simpel; tentang kehidupan mahasiswa di kampus FEB tercinta, terutama tentang bagaimana seseorang beradaptasi menyesuaikan kampus yang ‘label’ nya macam-macam itu.

Waktu artikel ini baru jadi dua paragraf, draf nya saya kirim ke Kin2x, dan sempat di reply dengan e-mail yang salah satu bagian nya berbunya ” … harus ditambahin yan, bisa jadi mirip majalah ***** “

Dan artikelnya pun langsung saya revoke habis-habisan! ahaha

dan inilah video proses pemotretan untuk gambar artikel Inflasi Gaya Hidup, yang ketika saya upload di Buku Wajah membuat saya terancam akan diblok account nya karena melanggar hak cipta gara-gara lagu yang dipakai di video

http://www.youtube.com/watch?v=8a2sTWPIs-c

Beberapa hari yang lalu video ini saya upload di website EQ, dan keesokan harinya saya dicerca si bos dan disuruh mencari konten pengganti untuk screen di website EQ dalam jangka waktu 3 hari. Kata si bos “enggak suka aku. ngga jelas!” wkwkwk

Tapi lumayan lah, buat belajar Adobe Premiere. Direkam dengan video recorder Nokia 6120c jadi kualitas gambar video nya rada sampah (blitz nya malah keliatan kaya efek retro -_-”a).

Tapi buat sesuatu yang direkam pake hape, menurutku udah lumayan. what do you think?

Hunting Buku di Hari Rabu (ikut2an mas Nambrot bikin judul yang nge-rhyme)

•July 31, 2009 • 7 Comments

Di forum diskusi EQ yang ada di buku wajah ada yang mengatakan bahwa budaya membaca di EQ harus ditingkatkan dengan menambah buku-buku populer di perpus EQ. Dan itu membuat saya mengelus dada. Hanya saja kali ini elusan dadanya bak gerhana matahari kemarin karena saya tujukan untuk diri saya sendiri. Jarang-jarang…

Diskusi itu cukup menohok dan membuat saya semakinsadar bahwa saya kurang membaca -bacaan bermutu. Tapi sebenarnya yang mendorong saya untuk berburu buku adalah kartu diskon 20% Dunkin Donuts untuk setiap hari Rabu yang diberikan mba’ Megchoenx (lebih tepatnya saya rampok sih). Jadi niatnya mau sok baca buku sambil makan donat, lumayan diskon 20% 1 biji donat jadi 4800 perak.

Pukul 11.00 langsung tancap gas menuju Gramedia. Sampai di sana saya langsung menuju bagian buku-buku impor bekas (oh, how very six-five-seven of me). Begitu melihat rak mata saya langsung tertuju pada sebuah buku kotor -lengkap dengan noda kopi- berjudul Wicked.

DSC02515

Hoki! Kebetulan review dari buku ini pernah saya baca di internet, dan kata orang-orang sih bagus. Ceritanya tentang Wicked Witch of the West yang ada di cerita Wizard of Oz (walaupun Wizard of Oz adalah salah satu classic masterpiece, dengan malu saya mengaku bahwa saya belum pernah melihat atau membaca ceritanya dalam bentuk apapun dengan lengkap). Dan kebetulan harganya juga cukup bersahabat, 50rb rupiah; walaupun termasuk murah, tapi tetap relatif lebih mahal dibandingkan yang 25rb-an.

Awal2nya saya sempat meragukan buku ini karena ada embel-embel Wizard of Oz nya; cerita tentang si gadis, singa, orang2an sawah, dan manusia kaleng. Saya mengira buku ini berisi cerita anak-anak. Tapi ternyata di chapter awal sudah ada rencana pembunuhan, perselingkuhan, dan sex. Mantap! Sayangnya entah kenapa saya kurang bisa memvisualisasikan. Mungkin karena ada asumsi everyone knows the WIzard of Oz jadinya pendeskripsian di buku ini tidak begitu detail?

Setelah itu turun ke Dunkin Donuts, dan niatan saya untuk membeli setengah lusin donat sirna karena mengelus dada lagi. Betapa miskinnya saya setelah backpacker trip kemarin. Padahal sudah diskon 20%. hik$…

Akhirnya hanya dapat ice chocolate dan donat isi durian satu biji seharga Rp 10.900

Setelah itu ke selatan sedikit mampir rumah mirota maen bareng teman, selesai main pergi ke Mas Kobis untuk beli makan, lalu pulang di sore hari dengan puas. Great day!

________________________________________________________________________________________________________________

by the way, walaupun saya kait2kan, tapi saya belum ada rencana untuk menyumbangkan buku ini ke perpus EQ. Jadi tulisan ini intinya hanya:

p a m e r

wkwkwkwkwk…

Are You Muslim?!

•July 29, 2009 • 8 Comments

Tadi siang waktu maen bareng Tomi jadi ingat salah satu kejadian paling berkesan semasa SMA.

Kejadiannya saat ujian praktek bahasa inggris. Waktu itu jaman-jamannya download episode-episode South Park. Saya ingat betul -crystal clear- waktu itu lagi seneng banget sama episode South Park yang tentang J-Lo; episode yang sukses membuat saya belajar kosa kata bahasa Spanyol tapi dalam kalimat yang enggak bener. Misalnya sapaan, “Hola bitchola!” atau kata ‘cholo’ dan ‘chika’ (jangan pernah diucapkan kepada orang latino/latina kecuali kalau sudah kenal, serius!). Episode tentang Paris Hilton juga.

Jadi waktu itu ujian praktek bahasa inggris, berpasangan, membuat sebuah percakapan semi-drama. Berhubung saya dan Tomi males mikirin ujian praktek b.ing akhirnya kami memutuskan untuk membuat percakapan yang terinspirasi oleh South Park, dibumbui dengan sedikit improvisasi. Jelas saya kebagian line dengan kata-kata yang vulgar. Ceritanya saya menjadi seorang druggie yang pemabuk dan Tomi jadi teman yang berkelakuan benar yang diperankan dengan sangat ekspresif. Sayangnya saya enggak bisa ingat secara lengkap, apalagi bagian si Tomi. Yang jelas, yang saya tulis jelas terucap pada waktu itu

Tomi: “… … …”

Ian: “… urgh, you can suck my culo cholo!”

Tomi: “… … …”

Ian: “Give me that! f*ckin christ I need a drink” sambil merebut botol yang ceritanya berisi minuman beralkohol dari tangan Tomi  (kata f*ckin disamar-samarkan)

Begitu dialog selesai komentar yang keluar dari mulut Bu Arti Umiyarti…

.

.

.

“Are you muslim?!” sambil melihat saya dengan sedikit kerutan di dahi bercampur ekspresi orang yang tercengang (tapi bu Arti banget lah, yang islami kalem gitu jadi semacam ekspresi orang yang mengelus dada sekaligus nggumun)

*langsung nglirik ke Tomi sambil nahan ketawa*

GUOBLOK BUANGET SUMPAH!!! wkakakakakak…

Sempat ditanya juga penjelasan dari dialog tadi dan saya ngeles, “The two guys are latinos so we decided to use some spanish words”. wakakakakak… daripada ditanya artinya apa, bisa mampus.

Keluar dari kelas kami berdua cuma bisa ngakak sambil saling mengulang pertanyaan, “are you muslim?!”. Parah!! Sampai sekarang misteri mengapa bu Arti menannyakan pertanyaan tersebut masih belum terungkap. Mungkin karena saya menggunakan kata ‘christ’? Entahlah.

P.S. nilai prakter b.ing saya tetap oke (jelas) dan ‘culo’ artinya asshole

Wakakakakakakak…!!!

~true story, sumpah!

In Details: the Great Singaporean Food

•July 26, 2009 • 6 Comments

Yang paling saya ingat dari kunjungan ke Singapore sudah pasti adalah makanannya. Karena waktu yang saya miliki untuk menikmati Singapore kurang dari 24 jam, what better way to spend it than on enjoying the food, right?

Tapi sebelumnya ada satu hal yang saya perhatikan -yang menurut saya sangat menarik- adalah penataan pedagang kaki lima. Ada sesuatu dengan penataan di Singapore yang begitu rapi sehingga saya menjadi bingung ketika harus menyatakan ada atau tidaknya pedagang kaki lima di sana. Saya hampir tidak pernah melihat orang berjualan hingga memakan trotoar atau sidewalk. Dan kalaupun ada, selalu ada sedikit ruang yang dikosongkan sehingga para pejalan kaki tetap bisa menembusnya tanpa memutar arah terlebih dahulu.

Hal ini juga berhubungan dengan adanya pembangunan hawker center. Saya pertama kali mendapati istilah hawker center dari salah satu episode Bizzare Foods with Andrew Zimmern. Pada dasarnya hawker center adalah sebuah tempat -semacam food court- yang berisi banyak stall penjaja makanan ang didirikan untuk mengontrol kebersihan makanan kaki lima. Saya masih ingat di episode itu Andrew bersantap di sebuah hawker center dengan salah satu ahli kuliner Singapore yang berkata, “There are no flies here don’t worry, the flies are afraid of the law.” Four thumbs up untuk pemerintah Singapore. Hal ini menggambarkan bagaimana pemerintah Singapore begitu peduli dengan kulinernya. Dan ini justru balik digunakan sebagai sebuah advantage oleh pemerintah Singapore; di dalam booklet Best of Singapore’s Food buatan Singapore Tourism Board yang dapat diambil begitu mendarat dari pesawat, mereka berani merekomendasikan makanan yang dijual di stall hawker center. Siapa sih yang enggak mau makanan enak, higienis, dan murah??

Jika teringat akan hawker center di Singapore, saya selalu membayangkan sekaligus mengharapkan untuk dibangun sebuah hawker center di Jogja. Saya membayangkan ada hawker center di daerah Kota Baru; ada stall siomay telkom, mie ayam syuhada, coto makassar & es pisang ijo GO, nasi bakmoy depan SD Serayu, mie kridosono, soto pak sholeh, soto surabaya & empek-emepek tanpa nama utara SMA3, nasi goreng sapi SMA3, nasi goreng kambing, mie ayam genther, terang bulan & pukis gereja kota baru, dan lain-lain, semuanya di satu tempat. Surga! Dan bayangkan betapa bersihnya daerah Kota Baru (dan betapa melambungnya harga tanah yang sudah sangat mahal di sana) setelah itu. Sayang hingga saat ini pemda Jogja hanya bisa memindahkan dan belum mengatur kebersihan (kaki lima depan hotel Radisson -sekarang hotel Plaza contohnya). FYI, di setiap stall di hawker center tertulis rating A hingga D yang -bukan menunjukkan tingkat kelezatan makanan di situ, namun menunjukkan tingkat kebersihannya.

And on to the food…

Begitu mendarat yang kami lakukan adalah mencari makan. Setelah sedikit berdebat akan susahnya mencari maknanan halal, akhirnya kami tetap memutuskan untuk pergi ke china town. Setelah bertanya kepada seseorang di masjid, kami menuju ke Maxwell food center yang sayang sekali tutup (padahal ternyata memiliki beberapa stall yang cukup tersohor, sial!). Lalu setelah bertanya lagi akhirnya kami bersantap di Tanjung Pagar. Setelah berputar cukup lama akhirnya saya memilih untuk memesan Fried Bee Hoon

Fried Bee Hoon; NO PORK, NO LARD

Fried Bee Hoon; NO PORK, NO LARD

Awalnya saya sempat tergoda untuk memesan semacam nasi rames a la cina saya tidak tahu namanya karena ditulis dengan huruf cina. Yang jelas antriannya sangat panjang jadi saya mengambil kesimpulan bahwa itu pasti enak, sayang ada tulisan fried pork dll di papan menu nya. Ada juga green tea rice yaitu nasi yang disantap bersama dengan semangkuk besar green tea tradisional yang terlihat kental (bukan green tea yang tembus pandang seperti yang dihasilkan menggunakan tea bags) yang membuat saya sangat penasaran. Sedangkan Koplak, Kin2x, Gel2x, dan mas Sidiq memesan makanan yang sama yaitu grilled eel

Grilled Eel

Grilled Eel

Fried Bee Hoon pada dasarnya ya bihun goreng, dengan udang, cumi, fishcake, dan bak choy. Fried Bee Hoon ini tidak begitu kering, masih ada kuah sedikit, dan meskipun namanya ‘fried’, bihun ini tidak berlumur minyak seperti yang biasa dijumpai di Indonesia. Yang paling saya suka dari fried beehoon ini adalah citarasanya yang bersih. Karena terbiasa dengan citarasa yang tajam, entah itu rasa sangat gurih, berminyak, pedas, atau ketiganya, fried beehoon dengan sedikit perasan jeruk limau memberikan sebuah bihun goreng dengan rasa menyegarkan yang tidak biasa didapatkan. Dan berhubung saya terbiasa dengan rasa yang tajam maka saya tetap menambahkan sambal yang disediakan di sampingnya. Jujur saya langsung jatuh hati dengan sambal ini. Rasanya mirip sambal terasi dengan tekstur yang lebih mild dan rasa gurih yang pas. Sempat kepikiran untuk mencarinya dan membawa pulang ke Indonesia tapi saya pikir pasti repot membawa toples berisi sambal untuk 10 hari ke depan.

Saya juga sempat mencicipi grilled eel milik mas Sidiq. Rasanya ya… grilled eel. Sedikit amis, empuk, mirip grilled eel yang ada di restoran Silla lah, tapi versi yang lebih besar. Munkin rasanya akan berbeda jika dimakan bersama dengan kuahnya.

Berhubung harga fried bee hoon tadi murah (3,5 SGD -jika dikurskan menjadi rupiah memang mahal tapi untuk ukuran makan di Singapore murah) dan saya tidak memesan minuman maka saya berkeliling di food center lagi utuk mencari desert. Kalau dessert boleh lah sembarang memilih, akhirnya saya mencoba yang antriannya paling panjang dan di kaca depan stallnya terdapat semacam review koran mengenai makanan di stall itu, Annie’s Ice Kachang.

Annie's Ice Kachang

Annie's Ice Kachang

Es serut dengan bubur kacang merah, syrup warna merah, taburan kacang, dan -yang sangat disayangkan- jagung manis. Padahal rasa dari ice kachang ini cukup enak, apalagi bubur kacang merahnya. Dan semua itu menjadi rusak dengan adanya jagung merah. Mungkin ini soal selera, tapi saya tidak suka jagung manis sebagai dessert, rasanya aneh. Dan kalau mau bicara soal porsi, porsi ice kachang ini cukup banyak. Lebih tepatnya tinggi. Bahkan di saat-saat terakhir ice kachang saya patah dan bagian atasnya -yang penuh dengan bubur kacang merah lezat- jatuh ke meja. Sial!

Setelah makan turun hujan rintik-rintik. Kami melanjutkan perjalanan ke merlion dan esplanade. Setelah itu kami menuju little india untuk makan lagi.

Keluar dari stasiun MRT, kami bertanya kepada seorang wanita yang seingat saya menggunakan baju sari. Dia mengatakan tidak ada hawker center di dekat sini. Lalu kami memutuskan untuk terus berjalan di sekitar little india dan akhirnya menemukan sebuah restoran yang direkomendasikan oleh Lonely Planet yaitu Ananda Bhavan vegetarian restaurant. Tempatnya ramai pengunjung, padahal bukan jam makan siang. Awalnya kami kehabisan tempat duduk, tapi ternyata masih ada meja di lantai 2. Bingung bukan main ketika harus memilih makanan dari daftar karena nama makanannya tidak ada yang familiar. Akhirnya Kin2x dan Gel2x memesan rice meal set

Ananda Bhavan rice meal set

Ananda Bhavan rice meal set

Walaupun rasanya aneh, setelah dipikir-pikir rice meal set ini rasanya cukup enak, apalagi jika dibandingkan dengan pesanan yang lainnya. Aneh karena rasa yang mendominasi rice meal set ini rasa asam dan kecut; 3 mangkuk dengan kuah berwarna merah rasanya ada yang asam, kare kentang berwarna merah selain pedas juga asam, sambal berwarna merah nya sangat asam, salah satu dari bubur berwarna kuning juga rasanya asam, dan plain yoghurt di mangkuk juga asam. Lalu ada nasi, kerupuk, dan semacam perkedel juga. Pertamanya kami sempat ragu untuk memesan lagi, tapi berhubung lapar akhirnya mas sidiq memesan roti naan, koplak memesan semacam pastel dengan saus yang lagi-lagi asam, dan saya memesan idli yang rasanya seperti nasi basi dikukus yang sukses membuat saya malas untuk menggambil gambarnya.

Tapi roti naan yang disajikan di Ananda Bhavan rasanya mantap; empuk, hangat, tidak berminyak. Kalau pernah mencoba roti naan di warung makan Phuket di Jogja yang berminyak dan sedikit keras, ini bisa dibilang kebalikannya. Roti naan disajikan dengan 3 macam colekan yaitu kacang merah, alpukat, dan yang satu lagi saya lupa rasanya seperti apa. Not bad, but nothing special.

Roti naan dan Idli (belakang)

Roti naan dan Idli (belakang)

Setelah kenyang kami perjalanan lagi ke beberapa tempat hingga akhirnya kawan-kawan yang lain memutuskan untuk pergi ke Sentosa Island. Saya lebih memilih ke daerah Katong untuk mencoba makanan otentik Singapore yaitu laksa. Konon katanya warung laksa yang saya tuju ini sangat terkenal sampa-sampai banyak yang menggunakan nama warung laksa ini. Tempat ini ternyata jauhnya bukan main dari stasiun MRT Eunos, mungkin jika ditempuh dengan jalan kaki bisa memakan waktu lebih dari satu jam. Sempat kesasar sedikit, tapi akhirnya saya sampai juga di 328 Katong Laksa.

Begitu sampai saya langsung memesan satu mangkuk laksa dan satu buah otak-otak karena melihat otak-otaknya masih dipanggang. Ketika ditanya mau minum apa saya bingung jadi saya tidak memesan dulu. Saat pesanan diantar si ibu bertanya lagi saya mau minum apa. Setelah melihat orang-orang di meja lain akhirnya saya hanya berkata, “I’ll have whatever he’s having” dengan menunjuk sebuah minuman berwarna hitam milik seorang bapak di sebelah saya.

328 Katong Laksa

328 Katong Laksa

Sayang sekali rasa dari laksa sangat tidak sesuai dengan lidah saya. Kuah laksa sebenarnya enak; lembut dan rasanya mild, tapi santan nya itu lho, kentalnya minta ampun! Ya bayangkan saja makan kuah nasi padang sebagai sup, tapi masih lebih kental. Sepertinya sih ada susu nya juga di dalam kuahnya. Yang paling tidak saya sukai dari laksa ini adalah garnish daun corriander kering nya. Entah kenapa saya tidak tahan dengan corriander atau yang dibahasa Indonesiakan sebagai daun ketumbar (mirip, tapi bukan daun seledri) ini. Rasanya terlalu menyengat sehingga sering membuat mual. Kalau hanya satu, dua helai sih enggak masalah. Dulu saya pernah membeli daun ketumbar di supermarket (karena jarang ada) lalu sok-sokan menggunakan bertangkai-tangkai untuk garnish di atas mie goreng. Alhasil mie saya rasanya jadi menyengat aneh tidak karuan dan saya hampir muntah karena terpaksa menghabiskannya. Daun kemangi saya suka, tapi daun ketumbar lain cerita.

Otak-otak Singapore menurut saya walaupun rasanya cukup enak, teksturnya aneh; kenyal tapi kenyal pudding bukan kenyal bakso.

otak-otak

otak-otak

Dan yang menjadi penutup adalah, ternyata, longan drink dengan merek Louhan Longan drink. Rasanya juga sangat asing di lidah. Tekstur dari buah longan mirip dengan kurma dan rasanya tidak manis.

Louhan Longan drink

Louhan Longan drink

Setelah itu tidak ada agenda kuliner lagi karena waktu yang semakin menipis dan akhirnya dengan sedih harus meninggalkan Singapore keesokan harinya. But it doesn’t end here, next stop: Bangkok!

Kinchroenx & om Seq

•July 25, 2009 • 7 Comments

Selamaaaaaaat…!!!

Hahaha… selamat ya chroenx (bar dadian kudu tambah ‘r’), om Seq… akhirnya jadi juga. Walaupun saya enggak sampai bikin KinSeq Watch tapi sebenarnya gelagat kalian sudah tercium sejak jaman Manohara belum dianiaya.

Chronx! akhirnya sama om Seq…

DSC02483

om Seq… …

DSC02484

om Seq… … …

DSC02493

om Seq !!!

DSC02503

wkwkwkwk… ini bukan sabotase, hanya lucu-lucuan.

Sekali lagi, selamat ya om Seq, Chroenx!

In Details: the oh-so-important Marriage

•July 22, 2009 • 9 Comments

Saya sangat tergelitik untuk mengulas masalah ini. Daripada ‘mengulas’ sebanarnya lebih tepat mengeluarkan uneg-uneg pribadi saya. Setelah menginap satu malam di rumah saudara saya di Singapore pada saat trip kemarin, Koplak sempat nyletuk kepada saya yang intinya dia merasa kasihan kepada saudara saya. Kesannya dramatis banget ya? hahaha.

Kata Koplak, saudara saya kasihan karena masih lajang hingga saat ini padahal umurnya, ya, bisa dikatakan umur dimana rata-rata orang Indonesia sudah berkeluarga dan memiliki anak. FYI, saudara saya ini memang masih lajang dan hidup sendiri (sepertinya) hingga sekarang, tapi dia memiliki karir yang bisa dibilang sangat mulus. Saat ini dia bekerja di salah satu perusahaan akuntan multinasional yang sangat terkenal.

Pembicaraan mengenai kelajangan ini juga pernah dialami oleh saya dan kin2x. Kin2x kurang lebih berpendapat seperti Koplak. Saya menarik kesimpulan dari apa yang dikatakan Kin2x bahwa berkeluarga jauh lebih penting daripada menjadi wanita karir yang sukses tapi hidup sendiri.

Walaupun sangat menarik, pembicaraan mengenai hal ini tidak pernah saya lanjutkan hingga panjang lebar. Selain fakta bahwa setiap orang pasti memiliki persepsi yang berbeda, saya yakin persepsi saya mengenai hal ini bisa dikatakan tidak lazim.

Satu sendok makan budaya timur ditambah dengan satu sendok makan hukum Islam akan menghasilkan sebuah perpaduan yang terasa bagaikan anjing yang dirantai. Getting married is basically putting a leash on your neck. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, ada tambahan orang yang harus dipikirkan setiap kali mengambil sebuah keputusan;  saya justru tidak paham mengapa ada orang yang menikah muda, apalagi yang ujung-ujungnya berakhir tragis. Tidak semua orang seperti Manohara yang pintar melakukan publicity stunt sehingga karirnya justru melonjak.  Walaupun saya tidak menganggap bahwa perknikahan adalah sebuah carrier-killer, tapi tetap saja sebuah distraction. Sekian persen -dengan ’sekian’ yang ada di benak saya hampir seluruh- dari kebebasan harus direlakan demi ‘kepentingan bersama’.

Menikah dengan alasan ’sudah semakin tua’ menurut saya adalah sebuah modern day tradegy. It’s just, ridiculous. Apalagi ditambah dengan komentar dari orang tua, “Mbok udah…” karena alasan umur tadi. What’s the point of getting married?! If  you want kids you can adopt one, or even use a surrogate mother (oh, kemajuan teknologi). Ini pasti terdengar sangat corny *urgh, kill me now*, tapi menikah dimulai dengan menemukan ‘the one’. Kalau belum menemukan ya no need to hurry, terus melajang saja.

Saya justru ingin hidup lajang, bebas di usia 30-an dengan mapan dan karir yang bagus. Jika disuruh memilih untuk berkeluarga atau peningkatan karir dengan pengorbanan penambahan masa lajang saya jelas akan memilih yang terakhir. Tapi entah, mungkin beberapa tahun lagi pemikiran saya berubah. Yang jelas untuk saat ini, andaikata saya punya semacam daftar yang berisi hal-hal yang ingin saya capai untuk jangka waktu 10 tahun mendatang, menikah tidak ada di dalamnya.

no judging, just my two cents

One Day, yet So Many Experiences. Singapore

•July 22, 2009 • 5 Comments

Jika saya harus memilih mana dari ketiga negara yang paling berkesan, saya akan menjawab Singapore. Ada sebuah sophistication dari Singapore yang tidak didapatkan di Indonesia, tapi di saat yang bersamaan Singapore tetaplah sarat akan budaya.

Makanannya enak,

Orang-orangnya ramah,

Negeranya tertib dan bersih,

Transportasi umum-nya bersahabat,

dan daftarnya terus berlanjut.

Ada begitu banyak hal menarik di Singapore dan susah untuk menjelaskan semuanya secara detail; dari hal yang simpel seperti kedai Starbucks di bawah kolong jembatan atau bangunan signature seperti gedung Esplanade yang berbentuk durian. Atau bagaimana adanya begitu banyak ras di pusat kota yang sibuk.

Yang jelas semua yang dialami di Singapore terasa begitu cepat. Mungkin karena kami hanya memiliki satu hari untuk menikmatinya. Begitu turun dari pesawat kami langsung ‘dipaksa’ untuk belajar bagaimana menggunakan Mass Rapid Transit, semacam subway yang menghubungkan setiap neighborhood yang ada di Singapore. Infrastruktur ditunjukkan dengan simpel namun jelas sehingga tidak perlu seorang jenius untuk menuju sebuah tempat menggunakan sistem transportasi umum yang canggih ini.

MRT ian MRT

Langsung menuju china town untuk mencari makan siang dengan harapan dapat menemukan masakan cina khas Singapore. Dengan suasana pecinan tradisional di benak, ternyata china town tidak seperti yang saya bayangkan. Meskipun terdapat ruko-ruko yang khas china town di negara manapun tapi tetap ada sentuhan moder di china town Singapore. Keluar dari stasiun MRT kami menyadari bahwa menyamakan gambar di peta dengan jalan yang sebenarnya tidaklah mudah. Alhasil setelah berjalan selama beberapa menit kami akhirya memutuskan untuk bertanya kepada seorang mas-mas kantoran. Ketika ditanya di mana hawker center terdekat dia menjawab tidak ada. Dilihat dari dandanan mas nya sih dia bukan orang yang makan di hawker center. Lalu kami melanjutkan perjalanan sebentar dan melihat sebuah masjid, sholat, lalu bertanya lagi kepada orang di masjid, mana hawker center terdekat. Eh, dia menjawab ada; Maxwell Food Center.

lost in chinatown DSC02079

Maka kami pun berjalan menuju kesana. Dan ternyata tutup! Entah ini sial macam apa, semua stall yang ada di hawker center itu ditutup karena sedang dibersihkan. Setelah bertanya kepada orang (lagi) kami terus berjalan hingga menemukan hawker center di Tanjung Pagar. Setelah makan siang kami terus berjalan; Merlion, Esplanade, underground mall, makan sore di restoran India vegtarian, hingga akhirnya sore hari kami, lebih tepatnya saya, memutuskan untuk berpisah.

Yup! Kin2x, Gel2x, Koplak, dan mas Sidiq memutuskan untuk naik cable car menuju Sentosa Island. Berhubung uang saya limit (hanya tukar SGD50) dan nafsu kuliner belum terpuaskan, saya akhirnya pergi sendirian ke bilangan Katong untuk mencari 328 Katong Laksa yang legendaris. Dulu sebelum berangkat ketika saya mengetikkan keywords ‘best laksa in singapore’ di Google, beberapa kali nama 328 Katong Laksa muncul. Bahkan 328 Katong Laksa dituliskan sebagai salah satu recommended places untuk makan laksa di booklet Best of Singapore’s Food buatan Singapore Tourism Board yang kami ambil di bandara Changi. Jadi saya merasa kurang afdhol kalau tidak mampir, paling tidak berusaha mencari, warung makan laksa ini. tapi akhirnya ketemu juga, walaupun ternyata rasanya tidak semantap legendanya karena tidak cocok di lidah saya.

Salah satu pelajaran yang saya dapat dari berburu kuliner kali ini adalah untuk memperhatikan grammar petunjuk arah dengan lebih baik. Ketika petunjuk mengatakan “nearest MRT station: Eunos” itu maksudnya benar-benar MRT station terdekat adalah Eunos walaupun enggak ada ‘dekat’nya sama sekali. Ternyata 328 Katong Laksa jauhnya bukan main dari Eunos! Mungkin lebih dari 1 jam kalau ditempuh dengan jalan kaki. Dengkul rasanya sudah mau copot semua! Padahal sebagian dari perjalanan sudah saya tempuh dengan bus. Mungkin karena membawa ransel sebesar karung beras di pundak.

Sekitar jam 10 malam saya bertemu kembali dengan mereka yang ternyata setelah bermain ke Sentosa juga sempat jalan-jalan di Orchard Road. Setelah itu kami menginap di rumah saudara saya, Mas Winang, di bilangan Yio Chu Kang. Setelah ngobrol-ngobrol sedikit dengan Mas Winang, mandi, mengistirahatkan dengkul (ini yang paling penting!), lalu tidur selama 4 jam kami mempersiapkan rasel dan menuju ke Bangkok, Thailand

Anecdote of One out of Five: the Introduction

•July 21, 2009 • 10 Comments

Beberapa hari yang lalu, selama sekitar 10 hari, saya, Kin2x, Gel2x, Koplak, dan mas Sidiq melakukan sebuah perjalanan ke tiga negara yaitu Singapore, Thailand, dan Malaysia. Ide dari perjalanan ini sebenarnya berasal dari Sidiq dan Koplak yang terlebih dulu memesan tiket AirAsia degan harga super miring yang berhasil membuat saya dan Kin2x iri setengah mati. Alhasil kami berdua memutuskan untuk ikut mereka dengan membeli tiket promo AirAsia yang sama walaupun dengan harga yang lebih mahal arena sudah lebih dekat dengan tanggal keberangkatan. Tidak lupa Gel2x yang juga kami ajak setelah memutuskan untuk ikut trip ini.

Sebenarnya saya ada bayangan masing-masing dari kami membuat tulisan mengenai perjalanan kemarin sehingga ada lima versi dari sebuah cerita, lalu dibukukan dan dicetak dengan jumlah yang sama sebagai kenangan pribadi. Saya membayangkan point of view dan gaya menulis dari lima orang akan memiliki perbedaan yang semakin terlihat jelas setelah tulisan-tulisan itu disatukan sehingga menarik untuk dibaca.
Dan jujur saya sempat ingin meniru format introduction milik Kin2x dengan foto masing-masing dari kami lalu deskripsi-deskripsi singkat yang konon katanya membuat kami terlihat makin keren. Tapi entah kenapa saya tidak pernah bisa menulis deskripsi seperti itu yang, maaf, bagi saya terdengar corny apabila saya sendiri yang menulis. Pasti jadi merinding sendiri. Kalau membaca tulisan orang lain masih bisa, tapi kalau harus menulis sendiri pasti badan langsung bergidik. Dasar saya orang paling sirik mungkin; menceritakan kelebihan orang lain maunya lokal tapi urusan membicarakan keburukan orang mulut saya roaming kemana-mana.

Salah satu hal yang menarik bagi saya adalah proses preparasi. Mulai dari booking hostel, mempersiapkan agenda perjalanan, hingga mempersiapkan barang pribadi yang harus dibawa. Saya sendiri sebenarnya tidak memberikan kontribusi dalam memperlancar proses preparasi perjalanan seperti segala macam booking dan pemilihan destination. Yang ada justru membuat ricuh karena saya bukan Koplak atau Gel2x yang spontan dan terima jadi, saya tukang memilih. Harus ini harus itu, bahkan hostel lebih mahal $2 saya tidak terima. Parah!
Barang pribadi yang saya bawa juga kacau balau. Jelas-jelas liqiud, gel, dan aerosol yang boleh dibawa tidak boleh melebihi 100ml, tapi tetap saja nekat membawa Loreal FixStyle 150ml (yang sukses membuat rambut saya terlihat oke di awal perjalanan). Masker pun hanya tiga yang saya bawa dan vitamin C tidak bawa sama sekali, padahal berita mengenai H1N1 sudah cukup marak. Bahkan tisu basah yang saya beli Tea Tree Oil face wipes dari Body Shop. Alhasil saya selalu minta sana-sini selama perjalan. Paling lucu ketika tisu basah milik mas Sidiq saya habiskan setengah box karena terpaksa buang hajat di jaringan sandwich Subway Pattaya. Kalau hanya pakai tisu toilet biasa kesannya kurang bersih karena tidak terbiasa. Tapi gila apa mengelap dubur pake tisu basah Body Shop?!
Harus saya akui saya kelewat pelit. Sampai sekarang saya selalu geleng-geleng sendiri ketika mengingat betapa pelitnya saya selama perjalanan. Hehe!

Dengan alasan safety dan sedikit terganggu dengan penampilan, saya sempat menyesal tidak membawa tas badan. Saya hanya menggunakan tas pinggang biasa yang membuat baju saya tampak menggembung di foto-foto perjalanan. Walaupun tas pinggang juga praktis dan memiliki lebih banyak ruang (bisa dimasuki HP, dompet, dan digital camera), tas badan tetap lebih praktis. Dan yang jelas tidak mengganggu penampilan.

Malam sebelum keberangkatan saya tidak bisa tidur nyenyak. Selalu kepikiran barang penting apa yang belum dimasukkan dalam tas. Apalagi mengingat hanya berbekal uang yang minim, rekening tabungan yang minim, dan tidak punya credit card. Kalau ada yang lupa dan harus beli di sana dan berarti pengeluaran bertambah. Tapi akhirnya bisa tidur juga. Setelah tidur beberapa jam, berangkat ke bandara Adi Sucipto dengan penuh excitement, dan akhirnya dimulailah perjalanan.

grand palace 01

Berhubung foto di bandara sudah dipakai oleh Gel2x, saya pakai foto ini saja. Salah satu foto favorit saya dimana saya terlihat *brak!* damn good! hahaha. Narsisme stadium 4 ini harap dimaklumi karena di hampir semua foto yang lain saya terlihat seperti gembel, kusam!

internet-kuuu…!!! @*?%$!^#!!! *tet tet tot tot tet tot…*

•July 18, 2009 • 12 Comments

Begitu sampai Jogja hal yang pertama dilakukan adalah menghidupkan laptop (sebenarnya setengah laptop karena LCD-nya rusak dan dicopot). Log-in, buka browser, search torrent TV series yang terlewatkan selama 10 hari, buka tracker, download.

uTorrent menunjukkan download speed 10kb/s
.
.
.
ditunggu… maklum, biasanya waktu start-up speednya masih pelan. Setelah ditunggu 10 menit ternyata download speed tidak bertambah.

Pergi ke rumah sebelah. Cari makan sambil jalan ke dapur, “Bu, internetnya kok lemot banget ya”

“ho oh pa?” jawab Ibu dengan sedikit senyum yang mencurigakan. Lalu Ibu menyatakan tidak tau apa-apa.

Setelah kembali ke kamar dan duduk manis, langsung buka speed test.
.
.
.
ditunggu…
.
.
.
download speed: xxx, panah connection speed menunjukkan 128kb/s…
.
.
.
128kb/s !!!!!!!!!

what the f*ck??!!

Setelah menginterogasi Ibu akhirnya terbongkar juga bahwa paket Speedy nya telah diganti jadi yang unlimited 300rb-an. Speed awalnya sih 1024kb/s, tapi setelah melebihi kuota jadi 128k/s. Yang bener aja 128kb/s! Jadi se-”cepat” telkomnet instan. Kembali ke jaman baheula.

Padahal pengen update blog mengenai cerita perjalanan *iri lihat punya Kin2x, apixxx*

Pengen upload foto -yang by the way entah kenapa buanyak yang blurrr dan gelap-gelap dan penuh angle aneh yang menyebabkan jelas terlihat bahwa yang mengambil gambar jarang pegang kamera.

Semoga hari Selasa internet sudah kembali normal. Kalau sesuai perjanjian dengan Ibu, internetnya mau diganti paket unlimited yang selalu 1024kb/s karena pengguna internet tambah satu, yaitu kakak sepupu yang merupakan adik dari kakak sepupu yang tinggal bersama Saya (-_-”a). Mulai tahun ajaran baru dia akan berkuliah di jurusan T-E-K-N-I-K K-I-M-I-A (jackpot buangeettt dah! selamat ya! Enggak sabar ingin melihat kehidupan mahasiswa teknik kimia secara live. wkwkwk)

Anyway, entah kenapa pengen uploa foto ini

DSC02441

hahaha…

Ini foto yang Saya dedikasikan untuk anak-anak CLR, terutama mas Aul yang sempat menagih, “Mana foto CLR-nya? Bukan cabang CLR ya?!”

opo banget lho ya.

Nih, spesial H1N1 Rangers edition.

Saya jadi Ranger Diare saja, karena sempat mengalami diare (tidak akut, efek masuk angin doank) yang notabene salah satu symptom swine flu. Kin2x dan Koplak mungkin ibarat ranger merah dan ranger pink tapi warna outfit mereka semi transparan karena symptom yang diderita masih ringan. *langsung bayangkan baju jaring-jaring!*

Nah, tau kan kalo di hampir setiap versi Power Rangers selalu ada ranger ’spesial’ dengan tampilan lebih wah (seperti ranger silver di Power Ranger dinosaurs yang dulu di tahun 90-an happening sekali sampe film nya diputar di bioskop *Saya pun nonton*), itulah Gel2x!!

Ranger warna amburadhul nan blawur. Sempat demam, batuk, tenggorokan gatal/radang, runny nose dan entah apalagi selama perjalanan Benar-benar ranger paling jagoan di antara kami ber5. Apalagi dengan senjata “kelonan” spesial miliknya. Bahkan katanya sampai sekarang batuk-nya belum sembuh. Buset dah!!

tet tet tot tot tet tot… (dibaca dengan nada go go power rangers)

*peace Gel! get well soon. seriously. it’s been more than 1 week. you need to go and get checked!*

Ayooo…!! Hari Selasa cepatlah tiba! Apa-apaan ini buka facebook 5 menit loading bar nya ga selesai selesai !!!

The Overrated and Underrated

•July 12, 2009 • 13 Comments

Postingan singkat dari hostel. Baan Rub Guesthouse oke juga nih, oke banget malah. kesannya sangat homy. Tiba-tiba pengen posting setelah pergi ke Golden Triangle yang katanya sangat WOW dengan huruf kapital. Setelah dari sana justru pengen mengganti kata WOW jadi wow dengan font subscript (tapi ngga tau caranya subscript di wordpress gimana). Mungkin kalau nginepnya di Four Seasons Tented Camp yang harga tenda /malem nya 72.000 Baht rasanya beda ya. Tapi tetep aja sungai Mekong cuma versi lebarnya Kali Code. Rakit ga dapet. Gajah juga enggak. Itu hill tribe juga, urgh banget dah.

Jadi untuk sementara, Thailand is the most overrated country ever. Aslinya lebih jelek daripada Indonesia lah. Cuma tourism nya aja digembar-gemborin tapi yang jelas tempat pariwisatanya dipelihara. Tapi tetep aja,  maleeesss daahh…

Apalagi yang namanya Pattaya. Bener-bener cuma kandang “ayam”. Dibayarin pun ke Pattaya lagi juga males (kecuali dibayarin nginep di Hard Rock Hotel yang lampu teras hotelnya maha-norak wkwkwk. Eh, tapi Tiffany show bagus lah)

Untung ada Om nya Koplak. Jadi bisa menikmati fasilitas hotel bintang lima di Bangkok. 

Tapi tetep excited kok kalo buat KL. Semoga lebih menyenangkan. Dan entah kenapa, Aku pengen balik ke Singapore. Padahal yang lain justru menjawab dengan “Ning Singapore ana opooo…??!!”

habis ini mandi terus sewa sepedan buat keliling Chiang Rai !

see you soon my friends!!

P.S.  duitku entek lho. trip report in details nya abis nyampe Jogja dah.

Dan entah kenapa setelah posting ini aku jadi pengen ke Bromo. Apa pulangnya mampir ya?  -_-”a