Yang paling saya ingat dari kunjungan ke Singapore sudah pasti adalah makanannya. Karena waktu yang saya miliki untuk menikmati Singapore kurang dari 24 jam, what better way to spend it than on enjoying the food, right?
Tapi sebelumnya ada satu hal yang saya perhatikan -yang menurut saya sangat menarik- adalah penataan pedagang kaki lima. Ada sesuatu dengan penataan di Singapore yang begitu rapi sehingga saya menjadi bingung ketika harus menyatakan ada atau tidaknya pedagang kaki lima di sana. Saya hampir tidak pernah melihat orang berjualan hingga memakan trotoar atau sidewalk. Dan kalaupun ada, selalu ada sedikit ruang yang dikosongkan sehingga para pejalan kaki tetap bisa menembusnya tanpa memutar arah terlebih dahulu.
Hal ini juga berhubungan dengan adanya pembangunan hawker center. Saya pertama kali mendapati istilah hawker center dari salah satu episode Bizzare Foods with Andrew Zimmern. Pada dasarnya hawker center adalah sebuah tempat -semacam food court- yang berisi banyak stall penjaja makanan ang didirikan untuk mengontrol kebersihan makanan kaki lima. Saya masih ingat di episode itu Andrew bersantap di sebuah hawker center dengan salah satu ahli kuliner Singapore yang berkata, “There are no flies here don’t worry, the flies are afraid of the law.” Four thumbs up untuk pemerintah Singapore. Hal ini menggambarkan bagaimana pemerintah Singapore begitu peduli dengan kulinernya. Dan ini justru balik digunakan sebagai sebuah advantage oleh pemerintah Singapore; di dalam booklet Best of Singapore’s Food buatan Singapore Tourism Board yang dapat diambil begitu mendarat dari pesawat, mereka berani merekomendasikan makanan yang dijual di stall hawker center. Siapa sih yang enggak mau makanan enak, higienis, dan murah??
Jika teringat akan hawker center di Singapore, saya selalu membayangkan sekaligus mengharapkan untuk dibangun sebuah hawker center di Jogja. Saya membayangkan ada hawker center di daerah Kota Baru; ada stall siomay telkom, mie ayam syuhada, coto makassar & es pisang ijo GO, nasi bakmoy depan SD Serayu, mie kridosono, soto pak sholeh, soto surabaya & empek-emepek tanpa nama utara SMA3, nasi goreng sapi SMA3, nasi goreng kambing, mie ayam genther, terang bulan & pukis gereja kota baru, dan lain-lain, semuanya di satu tempat. Surga! Dan bayangkan betapa bersihnya daerah Kota Baru (dan betapa melambungnya harga tanah yang sudah sangat mahal di sana) setelah itu. Sayang hingga saat ini pemda Jogja hanya bisa memindahkan dan belum mengatur kebersihan (kaki lima depan hotel Radisson -sekarang hotel Plaza contohnya). FYI, di setiap stall di hawker center tertulis rating A hingga D yang -bukan menunjukkan tingkat kelezatan makanan di situ, namun menunjukkan tingkat kebersihannya.
And on to the food…
Begitu mendarat yang kami lakukan adalah mencari makan. Setelah sedikit berdebat akan susahnya mencari maknanan halal, akhirnya kami tetap memutuskan untuk pergi ke china town. Setelah bertanya kepada seseorang di masjid, kami menuju ke Maxwell food center yang sayang sekali tutup (padahal ternyata memiliki beberapa stall yang cukup tersohor, sial!). Lalu setelah bertanya lagi akhirnya kami bersantap di Tanjung Pagar. Setelah berputar cukup lama akhirnya saya memilih untuk memesan Fried Bee Hoon

Fried Bee Hoon; NO PORK, NO LARD
Awalnya saya sempat tergoda untuk memesan semacam nasi rames a la cina saya tidak tahu namanya karena ditulis dengan huruf cina. Yang jelas antriannya sangat panjang jadi saya mengambil kesimpulan bahwa itu pasti enak, sayang ada tulisan fried pork dll di papan menu nya. Ada juga green tea rice yaitu nasi yang disantap bersama dengan semangkuk besar green tea tradisional yang terlihat kental (bukan green tea yang tembus pandang seperti yang dihasilkan menggunakan tea bags) yang membuat saya sangat penasaran. Sedangkan Koplak, Kin2x, Gel2x, dan mas Sidiq memesan makanan yang sama yaitu grilled eel

Grilled Eel
Fried Bee Hoon pada dasarnya ya bihun goreng, dengan udang, cumi, fishcake, dan bak choy. Fried Bee Hoon ini tidak begitu kering, masih ada kuah sedikit, dan meskipun namanya ‘fried’, bihun ini tidak berlumur minyak seperti yang biasa dijumpai di Indonesia. Yang paling saya suka dari fried beehoon ini adalah citarasanya yang bersih. Karena terbiasa dengan citarasa yang tajam, entah itu rasa sangat gurih, berminyak, pedas, atau ketiganya, fried beehoon dengan sedikit perasan jeruk limau memberikan sebuah bihun goreng dengan rasa menyegarkan yang tidak biasa didapatkan. Dan berhubung saya terbiasa dengan rasa yang tajam maka saya tetap menambahkan sambal yang disediakan di sampingnya. Jujur saya langsung jatuh hati dengan sambal ini. Rasanya mirip sambal terasi dengan tekstur yang lebih mild dan rasa gurih yang pas. Sempat kepikiran untuk mencarinya dan membawa pulang ke Indonesia tapi saya pikir pasti repot membawa toples berisi sambal untuk 10 hari ke depan.
Saya juga sempat mencicipi grilled eel milik mas Sidiq. Rasanya ya… grilled eel. Sedikit amis, empuk, mirip grilled eel yang ada di restoran Silla lah, tapi versi yang lebih besar. Munkin rasanya akan berbeda jika dimakan bersama dengan kuahnya.
Berhubung harga fried bee hoon tadi murah (3,5 SGD -jika dikurskan menjadi rupiah memang mahal tapi untuk ukuran makan di Singapore murah) dan saya tidak memesan minuman maka saya berkeliling di food center lagi utuk mencari desert. Kalau dessert boleh lah sembarang memilih, akhirnya saya mencoba yang antriannya paling panjang dan di kaca depan stallnya terdapat semacam review koran mengenai makanan di stall itu, Annie’s Ice Kachang.

Annie's Ice Kachang
Es serut dengan bubur kacang merah, syrup warna merah, taburan kacang, dan -yang sangat disayangkan- jagung manis. Padahal rasa dari ice kachang ini cukup enak, apalagi bubur kacang merahnya. Dan semua itu menjadi rusak dengan adanya jagung merah. Mungkin ini soal selera, tapi saya tidak suka jagung manis sebagai dessert, rasanya aneh. Dan kalau mau bicara soal porsi, porsi ice kachang ini cukup banyak. Lebih tepatnya tinggi. Bahkan di saat-saat terakhir ice kachang saya patah dan bagian atasnya -yang penuh dengan bubur kacang merah lezat- jatuh ke meja. Sial!
Setelah makan turun hujan rintik-rintik. Kami melanjutkan perjalanan ke merlion dan esplanade. Setelah itu kami menuju little india untuk makan lagi.
Keluar dari stasiun MRT, kami bertanya kepada seorang wanita yang seingat saya menggunakan baju sari. Dia mengatakan tidak ada hawker center di dekat sini. Lalu kami memutuskan untuk terus berjalan di sekitar little india dan akhirnya menemukan sebuah restoran yang direkomendasikan oleh Lonely Planet yaitu Ananda Bhavan vegetarian restaurant. Tempatnya ramai pengunjung, padahal bukan jam makan siang. Awalnya kami kehabisan tempat duduk, tapi ternyata masih ada meja di lantai 2. Bingung bukan main ketika harus memilih makanan dari daftar karena nama makanannya tidak ada yang familiar. Akhirnya Kin2x dan Gel2x memesan rice meal set

Ananda Bhavan rice meal set
Walaupun rasanya aneh, setelah dipikir-pikir rice meal set ini rasanya cukup enak, apalagi jika dibandingkan dengan pesanan yang lainnya. Aneh karena rasa yang mendominasi rice meal set ini rasa asam dan kecut; 3 mangkuk dengan kuah berwarna merah rasanya ada yang asam, kare kentang berwarna merah selain pedas juga asam, sambal berwarna merah nya sangat asam, salah satu dari bubur berwarna kuning juga rasanya asam, dan plain yoghurt di mangkuk juga asam. Lalu ada nasi, kerupuk, dan semacam perkedel juga. Pertamanya kami sempat ragu untuk memesan lagi, tapi berhubung lapar akhirnya mas sidiq memesan roti naan, koplak memesan semacam pastel dengan saus yang lagi-lagi asam, dan saya memesan idli yang rasanya seperti nasi basi dikukus yang sukses membuat saya malas untuk menggambil gambarnya.
Tapi roti naan yang disajikan di Ananda Bhavan rasanya mantap; empuk, hangat, tidak berminyak. Kalau pernah mencoba roti naan di warung makan Phuket di Jogja yang berminyak dan sedikit keras, ini bisa dibilang kebalikannya. Roti naan disajikan dengan 3 macam colekan yaitu kacang merah, alpukat, dan yang satu lagi saya lupa rasanya seperti apa. Not bad, but nothing special.

Roti naan dan Idli (belakang)
Setelah kenyang kami perjalanan lagi ke beberapa tempat hingga akhirnya kawan-kawan yang lain memutuskan untuk pergi ke Sentosa Island. Saya lebih memilih ke daerah Katong untuk mencoba makanan otentik Singapore yaitu laksa. Konon katanya warung laksa yang saya tuju ini sangat terkenal sampa-sampai banyak yang menggunakan nama warung laksa ini. Tempat ini ternyata jauhnya bukan main dari stasiun MRT Eunos, mungkin jika ditempuh dengan jalan kaki bisa memakan waktu lebih dari satu jam. Sempat kesasar sedikit, tapi akhirnya saya sampai juga di 328 Katong Laksa.
Begitu sampai saya langsung memesan satu mangkuk laksa dan satu buah otak-otak karena melihat otak-otaknya masih dipanggang. Ketika ditanya mau minum apa saya bingung jadi saya tidak memesan dulu. Saat pesanan diantar si ibu bertanya lagi saya mau minum apa. Setelah melihat orang-orang di meja lain akhirnya saya hanya berkata, “I’ll have whatever he’s having” dengan menunjuk sebuah minuman berwarna hitam milik seorang bapak di sebelah saya.

328 Katong Laksa
Sayang sekali rasa dari laksa sangat tidak sesuai dengan lidah saya. Kuah laksa sebenarnya enak; lembut dan rasanya mild, tapi santan nya itu lho, kentalnya minta ampun! Ya bayangkan saja makan kuah nasi padang sebagai sup, tapi masih lebih kental. Sepertinya sih ada susu nya juga di dalam kuahnya. Yang paling tidak saya sukai dari laksa ini adalah garnish daun corriander kering nya. Entah kenapa saya tidak tahan dengan corriander atau yang dibahasa Indonesiakan sebagai daun ketumbar (mirip, tapi bukan daun seledri) ini. Rasanya terlalu menyengat sehingga sering membuat mual. Kalau hanya satu, dua helai sih enggak masalah. Dulu saya pernah membeli daun ketumbar di supermarket (karena jarang ada) lalu sok-sokan menggunakan bertangkai-tangkai untuk garnish di atas mie goreng. Alhasil mie saya rasanya jadi menyengat aneh tidak karuan dan saya hampir muntah karena terpaksa menghabiskannya. Daun kemangi saya suka, tapi daun ketumbar lain cerita.
Otak-otak Singapore menurut saya walaupun rasanya cukup enak, teksturnya aneh; kenyal tapi kenyal pudding bukan kenyal bakso.

otak-otak
Dan yang menjadi penutup adalah, ternyata, longan drink dengan merek Louhan Longan drink. Rasanya juga sangat asing di lidah. Tekstur dari buah longan mirip dengan kurma dan rasanya tidak manis.

Louhan Longan drink
Setelah itu tidak ada agenda kuliner lagi karena waktu yang semakin menipis dan akhirnya dengan sedih harus meninggalkan Singapore keesokan harinya. But it doesn’t end here, next stop: Bangkok!