#8,5 dan #10: ‘What do Gay Men Want?’ dan buku ‘?????’

•February 19, 2010 • 3 Comments

Buku berikutnya sayang sekali hanya saya baca setengah. Saya tertarik buku ini karena cukup kagum dengan koleksi buku mengenai gender studies yang dilimiki oleh NUS. Buku karangan David Halperin ini pada awalnya saya kira merupakan buku yang santai; bukan buku dengan bahasa akademis (bahkan mendekati scientific apabila diberi tambahan data) yang mengulas dan meberika berbagai critical thinking atas karya ilmiah lain yang terfokus pada gender studies, terutama tentang kaum gay. Buku ini juga mencoba memtahakan asumsi-asumsi atau generalisasi terhadap kaum gay yang dirasa Halperin salah.

Buku yang satunya, adalah buku mengenai sebuah isu yang sangat sensitif bagi Indonesia. Maka saya memutuskan untuk tidak membuat -kalau boleh dikatakan- review atas buku itu. Tapi buku itu sempat membuka wacana saya akan suatu masalah yang pernah dianggap sebagai ancaman luar biasa oleh dunia, bahkan mungkin hingga sekarang, dari perspektif sosok yang bisa dikatakan salah satu orang paling revolusioner yang pernah ada.

Membaca berbagai macam buku dan berbagai agenda di liburan minggu tenang membuat saya khilaf tidak menyadari adanya assignment dan ujian tengah semester yang masih menanti. Semoga saya bisa belajar tepat pada waktunya sehingga bisa melewati tugas dan ujian dengan sukses.

dan yang pasti masih ada banyak buku yang harus dibaca agar bisa memenuhi obsesi! hahaha…

Self-Correction: 33 Books in Singapore

•February 17, 2010 • Leave a Comment

Part of growing up is knowing your own limits… and not be afraid of admitting them.

Maka saya mengganti ambisi saya menjadi 33 Books in Singapore

Mungkin 69 terlalu ambisius bagi saya yang membaca pun sangat jarang ketika di Jogja. Mungkin? Mungkin.

______________________________________________________________________________________________

P.S. untuk Dini Sasmita, the bet is still on!!! huahahaha

#8: the Old Man and the Sea

•February 17, 2010 • Leave a Comment

Kali ini yang saya baca adalah buku legendaris yang dikarang oleh Ernest Hemingway, the Old Man and the Sea

Saya terpikirkan untuk meminjam buku ini karena buku ini selalu muncul di mana-mana. Di dalam TV series, anak-anak SD atau bangku sekolahan lainnya selalu mendapat tugas untuk membaca dan membuat essay tentang the Old Man and the Sea. Bahkan sempat muncul di South Park juga.

Kalau boleh jujur menurut saya buku ini sangat membosankan. Satu buku habis untuk membahas orang tua yang pergi ke laut, dari persiapan hingga akhir. Tapi saya paham mengapa buku ini sering dijadikan bahan tugas. Untuk menggambarkan sebuah ikan yang melompat ke permukaan air Hemingway menggunakan deskripsi dan perumpamaan yang sangat sastra-is (<- saya yakin itu kata yang tidak baku) dan menggunakan vocabulary yang belum pernah saya temui sebelumnya.

Jelas bukan cerita dengan bahasa yang kasual dan alur yang mengikat macam buku-buku Dan Brown.

Lanjut ke buku berikutnya mengenai gender studies…

#7: Tom Ford

•February 15, 2010 • Leave a Comment

Buku ke-7 masih dari dunia seni, fashion lebih tepatnya. Tom Ford

Tom Ford ternyata adalah salah satu designer paling fenomenal sepanjang masa. Tom berhasil menghidupkan kembali Gucci hingga menjadi sebuah fashion power house yang penuh dengan seks, glamor, dan selebriti. Buku ini berisi interview dan cerita seingkat mengenai perjalanan Tom sebelum akhirnya meninggalkan Gucci (dan Yves Saint Laurent) setelah 10 tahun menjadi creative director di sana.

Melalui foreword dari Anna Wintour dan interview yang dilakukan oleh Bridget Foley, sosok seorang Tom Ford menjadi tergambarkan; pola pikirnya, alasan dibalik keputusan yang diambil, estetikanya, dsb. Yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana Tom Ford sering sekali membuat ad campaign yang sangat provokatif dan mencolok mata.

#6: Louis Vuitton: Art, Fashion, and Architecture

•February 13, 2010 • 3 Comments

“Doing things by yourself is-well, it’s masturbating. It’s not nearly as exciting as doing it with somebody else.” Marc Jacobs

Mungkin kali ini sedikit curang, karena buku ini tidak benar-benar saya baca. Hanya saya lihat gambar-gambarnya saja, satu-per-satu. Bukunya berisi 400 halaman dengan ukuran yang sangat besar; panjang bukunya sekitar 30cm. Louis-Vuitton: Art, Fashion, and Architecture memaparkan paran seniman dan karya mereka yang pernah berkolaborasi dengan LV.

Buku ini membuat saya dengan seketika menulis di dinding buku wajah Maharsi Wahyu Kinasih, “kin… bar aku mulih bikin ad campaign buat Ticex Bagz yok. hahahahaha”

Buku ini membuat otak saya meledak-ledak dengan imajinasi. Argh, melihat buku ini membuat saya ingin orgasme. Jika saya mampan nanti, saya ingin buku ini harus ada di rak buku saya.

…  Atau jika mimpi itu benar-benar bisa menjadi nyata, saya ingin ada di dalam buku Louis Vuitton berikutnya…

#5: After Dark

•February 13, 2010 • 1 Comment

Buku berikutnya yang sudah selesai saya baca, After Dark yang dikarang oleh Haruki Murakami

Lagi-lagi saya tidak bisa memberikan review, atau lebih tepatnya tidak bisa menjelaskan novel karangan Murakami ini. Ada sedikit misteri, sedikit kesedihan, sedikit kejadian yang bizzare; bagi saya kata kuncinya tetap ‘sedikit’. Murakami menceritakan berbagai kejadian yang sebenarnya sangat sederhana. Satu chapter habis untuk percakapan antar dua orang. Tapi percakapan yang sederhana di Denny’s atau di sebuah taman dapat dikemas menjadi sesuatu yang intense.

Ah, saya tidak bisa menjelaskannya. Tapi saya suka buku ini.

Lanjut ke buku berikutnya, Louis Vuitton : Art, Fashion, and Architecture

69 Books in Singapore

•February 11, 2010 • 2 Comments

Kalau dipikir-pikir, saya termasuk orang yang belum pernah punya target. Saya ingin punya IP 4.0, tapi jika menelusuri tiap sel di organ hati saya maka ada akan suara kecil yang berkata “itu mimpi belaka.”

Setiap kali membuka sintesis jantung saya berdetak bak menggebrak meja untuk berkata bahwa mimpi ini bisa menjadi nyata. Tapi sayang hingga saat ini gebrakan meja selalu diikuti punggung yang bersandar ke kursi dengan wajah yang menunjukkan rasa kecewa.

Tapi hidup tak berakhir setiap kali rasa kecewa itu muncul. Kalau iya berarti saya memiliki nyawa yang jauh lebih banyak daripada nyawa yang dimiliki oleh kucing; kucing memiliki 9 nyawa kata mereka.

Seperti memutuskan mau makan apa malam ini saya memutuskan untuk membuat target baru: 69 Books in Singapore.

69 buku dalam waktu 3 bulan memang sedikit ambisius, apalagi untuk orang seperti saya. Tapi setelah berbincang dengan seorang teman akhirnya angka ini terpilih hanya karena terlihat bagus. hahaha! Target baru ini muncul setelah iseng memasukkan sebuah judul buku ke dalam komputer perpustakaan NUS; tidak berharap banyak, ternyata bukunya ada! Baru pertama kali saya memegang buku dan merasakan sebuah perasaan yang orgasmik. Dan sebagai manusia biasa yang memiliki hormon seperti manusia lainnya, saya berusaha untuk mencapai orgasme ke-dua setelah yang pertama; meminjam lagi… dan lagi…

Untuk sementara saya sudah mulai membaca 5 buku (sedikit curang, 3 diantaranya text book):

1. Introduction to Econometrics. Stock, Watson

2. Cost & Benefit Analysis. Boardman, Greenberg, Vining, Weimer

3. Statistics for Business and Economics. Newbold, Carlson, Thorne

4. After Dark. Haruki Murakami

dan satu buku yang sudah selesai saya baca

after the quake, yang juga karangan Haruki Murakami

after the quake

Saya tertarik untuk meminjam buku ini karena salah satu teman saya dari kelas Japanese Pop Culture in Contemporary Japan menyebut judul buku ini ketika berjalan dari perpustakaan menuju kelas tutorial.

Setelah selesai membaca buku ini saya hanya bisa berkata bahwa buku ini salah satu buku teraneh yang pernah saya baca; kumpulan cerpen mengenai berbagai karakter yang memiliki keterkaitan dengan gempa yang melanda Kobe. Fiksi. Dengan karakter-karakter aneh seperti katak yang menyelamatkan Tokyo ataupun seseorang yang merasa dirinya anak Tuhan. Dikemas dengan sangat sederhana. Tetap saja di akhir setiap cerpen saya selalu berkata “ha?!”

Saya tidak paham makna dibalik setiap ceritanya. Atau mungkin saya yang berpikir terlalu jauh karena sebenarnya memang tidak ada.

after the quake dengan segala keanehannya tetap membuat saya membalik halaman terus menerus kecuali saat saya tertidur di kursi perpustakaan yang nyaman.

Sekarang lanjut ke buku berikutnya. Semoga target kali dapat tercapai sebelum kembali ke Jogja!

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.